Judulnya sengaja gw kasih tanda tanya, kenapa? karena..gw lagi mengingatkan diri gw sendiri untuk berhenti memikirkan cita2 gw yang tidak pernah kesampaian… gw sendiri berani bermimpi tapi gw malah berkhianat pada mimpi gw tsbt. Postingan ini didasari dari pertanyaan gw ke diri gw sendiri… kenapa dl gw bermimpi jd dokter, tp gw bukannya malah jd dokter, tp doktor. Wlpun cuman beda huruf “e” dan “o”, tp dua profesi ini benar2 bertolak belakang.Dont need to tell you the differences, you knew it for sure.
Dari gw mengenal bangku sekolah, nope, dr gw mulai bs mencerna kalimat, pertanyaan “nanti kalau sudah besar mau jadi apa?” sudah menjadi momok yang harus gw pikirkan. Pertanyaan itu awalnya datang dr orangtua gw, kakak2 gw sampai relatives gw. Setelah masuk sekolah, pertanyaan itu seakan2 menjadi sebuah tugas yang tidak berkesudahan yang harus gw pikirkan, sampai gw bisa mewujudkan pertanyaan itu, menjadi seseorang yang gw inginakan. Gw ingat, dl guru bahasa indonesia gw pas SD pernah menugaskan gw dan teman2 sekelas utk membuat karangan”aku kalau sudah besar ingin menjadi……..” titik2 dipakai karena setiap siswa/i pasti memiliki cita2 yang berbeda. Dan jawaban gw saat itu adalah, ingin menjadi penari balet. Iyah, gw dl sangat ingin menjadi penari balet, gara2 gw membaca komik bergambar mengenai penari balet yang berjuang dari bawah hingga sukses. Karangan itu tentu saja tidak terwujud, karena masuk les balet saat itu bisa dipastikan sangat mahal dan gw bukanlah anak orang kaya. Mungkin kalau gw memberi tau orangtua mengenai cita2 itu, mereka bahkan tidak akan mengerti, apa itu balet. Dan lagian, mana bisa cari duit pakai modal bisa balet? bagi pemahaman orangtua saat itu, balet hanya sebuah hobi, ketrampilan useless yang makan banyak biaya.
Setelah gw gagal bercita2 menjadi penari balet, cita2 selanjutnya yang gw pikirkan adalah menjadi pianist. Iya, gw sampai sekarang selalu kagum melihat wanita yang bisa main piano. Mereka sangat cerdas dimata gw. Dan lagi2 cita2 itu harus gw kuburkan karena faktor ekonomis dan orangtua gw pasti akan berkata itu useless. Bagi mereka, cita2 yang benar adalah menjadi seseorang yang bekerja utk orang lain dan mendapatkan gaji tetap perbulan.
Cita2 gw selanjutnya adalah menjadi seorang dokter. Dan cita2 ini adalah cita2 yang bs bertahan sampai gw lulus SMA. PAs SMA gw sengaja masuk kelas Biology, padhl nilai2 gw sangat memungkinkan utk masuk Fisika, krn gw pengen daftar ke kedokteran begitu lulus SMA.Orangtua gw jg tdk keberatan dengan cita2 mereka. Siapa sih yang menolak anaknya ingin menjadi dokter??
Orangtua gw bknlah orangtua yg memiliki pendidikan tinggi. Ayah gw lulusan SMEP, setingkat SMP. Nyokap sempat mengenyam pendidikan di PGAI, tp ga sempat kelar, krn buru2 dinikahkan opung n nenek gw. Ayah gw bknnya krn keburu nikah, makanya ga menyelesaikan pendidikannya, ayah gw berasal dr keluarga terpandang di kampungnya. Orangtuanya membelikan sawah dan bis sehingga ayah lebih memilih mencari uang sendiri drpd sekolah. Sekolah sepertinya wasting time bagi beliau, yang teman2 mainnya juga malas sekolah. Karena mereka merasakan pahitnya hidup tanpa sekolah yang cukup tinggi, mereka bertekad anak2nya minimal harus kelar S1, sehingga bisa mendapatkan pekerjaan yang tetap dan layak.
Nyokap buru2 dinikahkan karena opung dan nenek gw lebih memilih untuk menyekolahkan anak laki2nya ketimbang anak perempuan. Hal itu terpaksa mereka pilih, karena jika semua anak2nya sekolah, tidak akan cukup biaya untuk itu. Sehingga hrs ada yang mengalah, dan sayangnya nyokap gw dan adik perempuannya terpaksa mengalah keluar sekolah dan menikah. Bahkan nyokap gw dan saudara perempuannya terpaksa ikut membantu opung n nenek gw utk mencari tambahan biaya sekolah kakak laki2 mereka. Tak lupa nasehat agar kakak laki2 tsb nanti kalau sudah berhasil diwajibkan membantu saudara perempuannya. Dan memang, saudara laki2 nyokap berhasil semua.
Balik ke cita2 gw, pas SMA, krn gw termasuk berprestasi, gw dpt kesempatan PMDK. Dan saat gw akan memilih kedokteran, salah satu Om gw, adik laki2 nyokap yang berprofesi jadi Dokter, menasihati gw kalau lebih baik masuk Teknik Mesin drpd Kedokteran. Kedokteran biayanya mahal dan lama. Plus temen Om gw itu dl masuk Teknik Mesin dan lebih berhasil dr beliau. Gw insisted utk ngambil kedokteran, tp pas gw mencoba meminta pertimbangan nyokap dan bokap, mereka menyerahkan keputusan di Om gw. It will be better for me to do what my Uncle suggested. Namun anehnya, saat itu gw ga sedih, ga berat hati, ga menolak. Gw mengambil Teknik Mesin. Saat itu kata2 guru2 gw sejak SD; “gantungkan cita2 mu setinggi langit” seolah2 lenyap dari ingatan gw. Gw membunuh cita2 gw sendiri, karena…gw hrs realistis. Masuk kedokteran butuh banyak biaya dan waktu. Gw diharapkan untuk bisa bekerja dan menghasilkan uang secepat mungkin. . Cita2 bukanlah sebuah mimpi yg harus terwujud bagi gw, tp sebuah hal yang bisa dinegosiasikan dan direncanakan ulang.
Komen yang paling sering gw dengar saat gw menceritakan tentang cita2 gw yang ga terwujud ini adalah, “kan cuman beda “e” ama “o” doank, indeed, doktor lebih berharga drpd jd dokter. Gw ga pernah mengatakan doktor bukanlah hal yang ga bagus, in fact, menjadi seorang wanita muda penyandang tittle Dr. Eng dari salah satu universitas di Jepang, adalah hal yang sangat luar biasa dalam hidup gw. LAh wong gw baru tau ada S3 setelah kuliah.. Benar2 hal yang ga pernah gw cita2kan bahkan terpikir oleh gw dari dulu. Bahkan dengan menjadi seorang doktor, gw bisa mewujudkan mimpi gw yang lain, yang gw kubur didalam hati gw; mimpi gw keluar negri. Mungkin kalau gw menjadi dokter, gw ga akan keluar negri (笑).
Life has been so easy for me setelah gw mengalah pada mimpi yang gw peluk erat2 dari SMP sampai lulus SMA. Gw dpt PMDK teknik mesin, lulus tepat waktu, langsung dapat kerja, tidak lama kerja dapat beasiswa master ke Jepang, bahkan bisa melanjutkan ke Doktor dan bisa lulus tepat waktu, bahkan diberi pekerjaan begitu lulus S3. Gw cuman bisa bersyukur Alhamdulillahirobbilalamin untuk semua kemudahan itu. Gw juga diberi jodoh pada saat gw berpikir untuk menikah, dan diberi insyaAllah Alhamdulillah jodoh yang baik. Wlpun dalam hal mendapatkan keturunan, gw sempat tidak diberi kemudahan, tapi gw tetap merasa Allah is so kind, very kind to me.And if you ask whether I am happy now or not? I am happy, indeed very happy.
Cmn dibalik semua itu, gw ga kan pernah berhenti untuk mengingat, bahwa dl gw menyerah untuk menjadi seorang dokter, gw mengalah pada cita2 gw, dan saat gw keep thinking about it, Allah malah mengingatkan gw, bahwa tidak ada salahnya gw mengalah untuk sesuatu hal yang benar2 gw inginkan. Tidak ada salahnya bernegosiasi dengan hal2 yang sangat kita inginkan. Mimpi2 lain yang tidak pernah kita pikirkan malah akan datang menghampiri kita. Gw ga bilang utk berhenti bermimpi, gw hanya pengen bilang.. tetaplah bermimpi, dan jika suatu saat kita harus bernegosiasi dengan mimpi2 kita tsb, jangan merasa menjadi seorang pecundang. Life is full of choices. You will find pros and cons in your choice and its you who decide which one is the best for you. One more thing, ga ada salahnya mengorbankan keinginan sendiri demi orang2 yang kita cintai, karna gw yakin, orang2 yang kita cintai mengirim banyak doa2 untuk kebahagiaan kita.


