Tahun ini adalah tahun ke-8 saya berpuasa dan berlebaran di Jepang. Sedikit banyaknya ada rasa sedih dan merindukan suasana Ramadahan dan Syawal tersebut di Indonesia, bersama keluarga. Namun saya juga merasakan nilai plusnya berlebaran di negeri yang tidak mengenal adanya bulan puasa dan idul fitri ini.
Pertama, saya bisa lebih khusuk menjalani puasa, karena orang sekitar saya tidak berpuasa semua. Saat mereka memanaskan makanan di lab, wangi makanan mereka sangat mengganggu penciuman dan otak saya. Saat berbuka puasa, mau tidak mau saya harus selalu menyiapkan tajil dan menu berbuka yang saya dan suami inginkan, karena tidak mungkin kami membeli makanan Indonesia dengan gampang di sini. Saat tarweh pun, kami harus benar2 melawan hawa malas, karena di Indonesia dengan mudahnya kita bisa tarweh ke mesjid2. Saat sahur pun begitu, kami harus benar2 melawan rasa kantuk dan bangun dengan alarm sendiri, tanpa ada suara kentungan atau suara dari mesjid atau tetangga yang bisa membangunkan seperti halnya di Indonesia. Bulan Ramadhan benar2 memiliki arti menahan bagi kami di sini, dibandingkan dengan Indonesia.
Saat Lebaran pun, kami benar2 bisa merasakan khusuknya Syawal datang menutup Ramadhan. Karena kami hanya memikirkan sholat Ied tanpa harus heboh dengan persiapan2 menghias rumah, memasak makanan dan lain2. Terutama kalau Syawal jatuh bukan pada hari libur, untuk sholat Ied pun kami akan menemui kesulitan, karena tidak bisa libur.
Namun tidak munafik, saya sangat rindu ada di Indonesia saat bulan Ramadhan dan Syawal datang. Semoga tahun depan kami bisa menikmati ibadah tersebut di Indonesia atau di negara yang merayakan indahnya bulan2 tersebut. Amieen ya Rabbal Alamien.


