Streotype itu tidak selalu benar

Terlahir di Sumbar, tepatnya di Pasaman dari Ayah yang berasal dari suku Melayu dan Ibu dari suku Tapanuli membuat saya lebih dikenal sebagai Orang Minang. Dari Ayah, saya harus ikut ke suku Ibu, karena Ayah adalah keturunan Melayu Minangkabau yang mensyahkan garis matriakat. Sedangkan dari Ibu yang suku Tapanuli menganut sistem patriakat. Jadilah saya bukan orang minang dan juga bukan orang Tapanuli. Namun dari ajaran Islam tentu saja, kami menganut sistem patriakat.

Seperti umumnya, setiap tempat pasti memiliki hal-hal umum/stereotype yang berbeda dari daerah2 lain. Stereotype yang sering muncul dari kalangan awam mengenai orang sumbar/orang Minang adalah wanita yang lebih dominan daripada pria, karena adanya sistem matriakat yang dianut oleh penduduk setempat. Selain itu, secara umum, orang Minang, khususnya laki-laki Minang suka merantau dan berdagang. Anggapan bahwa wanita Minang itu selalu pintar memasak dan menari juga terkadang menjadi ke-khas-an wanita Minang di pandangan orang luar.

Saya juga mengalami hal-hal tersebut saat saya merantau. Saya merantau pertama kali ke Bandung, karena mendapat pekerjaan sebagai Dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Beberapa teman pria saya, yang bukan berasal dari Minang, selalu menilai saya tegas, cendrung berani dan mendominasi, karena saya orang Minang. Padahal sifat saya dari dulu memang begitu. Teman-teman wanita saya yang notabene keturunan Minang dari Bapak dan Ibunya tidak semuanya bersifat tegas dan dominan. Malah cendrung lembut dan mengalah. Beberapa teman wanita saya yang berasal dari Jawa juga memiliki sifat tegas, berani dan mendominasi.

Sebelum saya menikah dengan suami yang berasal dari Jawa Timur, sedikit banyaknya frictions dari keluarganya membuat saya sempat akan mengancel pernikahan kami. Anggapan mereka, wanita dari Minang tidak bagus dijadikan istri, karena sifatnya keras, mendominasi dan tidak menghargai suami dan keluarga suami. Saya sempat bertanya ke suami (waktu itu calon suami), bagaimana keluarganya bisa memiliki pemikiran seperti itu, dan jawabannya adalah, “kata orang2 seperti itu”. Saya paling tidak suka ada orang2 yang menjudge karena latar belakang dan keturunan saya, apalagi tanpa ada bukti2 yang memadai.  Walaupun akhirnya friction-friction itu bisa di atasi, namun setelah menikah, saya selalu berusaha mengingatkan kembali kepada keluarga suami saya, bahwa penilaian sepihak mereka dulu sebelum meminang saya adalah salah.

Sebelum itu saya juga sempat mendapatkan cerita yang sama, dari salah seorang sahabat, yang bercerita bahwa ibunya tidak suka dia menjalin hubungan dengan wanita yang berasal dari sumatra, bukan sumbar saja, tapi sumatra. KArena umumnya wanita dari sumatra itu sifatnya keras dan mendominasi.

Ada pendapat kenapa Bung Karno juga menikah lagi dengan Ibu Hartini adalah karena Ibu Fatmawati yang berasal dari Bengkulu tidak selembut Ibu Hartini yang berasal dari Jawa. Bahkan sifat Ibu Fat yang keras karena merasa kecewa dimadu inilah yang juga dinampakkannya saat Bung Karno wafat, Ibu Fat hanya mengirimkan karangan bunga dengan pesan ““Tjintamu yang menjiwai hati rakyat, tjinta Fat”, padahal hatinya berkecamuk ingin melihat wajah bapak anak-anaknya dan bapak bangsa itu untuk yang terakhir kalinya.

Disini saya lebih menghubungkan semua itu ke sifat dasar yang dimiliki perorang, bukan karena dia terlahir sebagai orang Minang, Batak atau Jawa. Mungkin karakteristik setiap penduduk di setiap daerah memang berbeda karena pengaruh lingkungannya, namun bukan berarti setiap orang yang berasal dari sebuah daerah lantas memiliki sifat itu kan?

Advertisement

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s